AKTIVITAS MANUSIA ZAMAN PRA AKSARA
Akal
manusia telah menjadi dirinya menjadi sosok makhluk yang berbeda serta memiliki
keistimewaan dalam mengelola kebutuhan hidupnya dengan terus berkembang menjadi
makhluk yang lebih baik. Penggunaan akal manusia dengan menciptkan teknologi
yang tersedia dari alam sekitanya seperti batu, tulang, dan kayu yang dapat
digunakan untuk menciptakan alat berburu hewan serta mengumpulkan makanan
sehingga alat-alat etrsebut selama bertahun-tahun selanjutnya mengalami
perkembangan dan inovasi sesuai dengan kebutuhan pada zamannya.
1.
Masa
Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana
Perburuan dan pengumpulan makanan menjadi aktivitas keseharian manusia pada masa ini. Mereka berburu hewan seperti rusa, kuda, kijang, kerbau, gajah, dan beberapa hewan lainnya. Pengumpulan makanan berupa umbi-umbian, buah-buahan, dan berbagai tanaman yang dapat dimakan. Hasil-hasil kebudayaan pada zaman ini secara arkeologis disebut dengan zaman paleolithikum. Zaman paleolithikum dapat dibedakan menjadi dua kebudayaan, yaitu kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Kebudayaan Pacitan menunjukan alat-alat dari batu sepeti kapak tapi tidak mempunyai tangkai atau alat penetak (chopper). Alat ini digunakan dengan cara digenggam dengan tangan. Alat-alat tersebut masih memiliki permukaan yang sangat kasar. Pada kebudayaan Ngandong banyak didapatkan alat dari tulang selain kapak genggam dari batu. Alat-alat dari tulang dibentuk tajam karena digunakan untuk mengorek umbi-umbian. Selain itu ada juga yang disebut lakes (alat-alat kecil) yang dibuat dari batu yang indah.
Karakteristik fisik manusia purba di Indonesia pada masa Paleolithikum ada 3 jenis yaitu:
a. Meghantropus
Paleojavanicus
b. Pithecanthropus
Erectus
c. Homo
Sapiens
Corak kehidupan sosial ekonomis pada masa ini yaitu manusia
bertahan hidup dengan cara berbru dan mengumpulkan makanan (meramu). Mereka
sangat bergantung pada alam sehingga kehidupan mereka bersifat nomaden atau
berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat
yang laun yang tujuannya ialah mengikuti gerak biantang buruan serta sumber
air.
2.
Masa
Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut
Masa ini seringkali disebut dengan
zaman batu tengah/madya atau Mesholitikum. Manusia pada masa ini hidup dengan berburu hewan darat,
menangkap ikan di sungai/laut, mencari kerang-kerangan di tepi pantai dan
mengumpulkan biji-bijian, umbi-umbian, buah-buahan. Mereka sudah mulai menetap
cukup lama di gua-gua (abris sous roche) dan cerukan di tepi pantai. Mereka
memilih tempat tinggal yang dekat dengan sumber air. Jika kalian perhatikan,
kehidupan manusia pasti dekat dengan sumber air hingga saat ini. Pertanian
sudah mulai dilakukan dengan menanam padi, umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Mereka juga sudah mencoba untuk berternak dengan menjinakkan hewan. Namun,
tradisi berpindah dan mengumpukan makanan masih dominan dan menjadi aktivitas
keseharian mereka.
Mereka yang tinggal dipantai meninggalkan jejak yaitu berupa
sampah dapur berupa kulit kerang atau disebut kjokkenmoddinger. Pada masa ini
manusia sudah masuk kedalam masa Mesolithikum berdasarkan arkelogis.
3.
Masa Becocok Tanam
Masa bercocok tanam adalah masa terpenting dalam sejarah manusia. Peralihan kebudayaan manusia dalam kebiasaan berburu dan mengumpulkan makanan ke masa untuk bercocok tanam mempunyai proses yang sangat panjang. Pada masa ini, manusia sudah memasuki babakan sejarah Neolithikum berdasarkan arkeologis. Manusia pada masa ini bercocok tanam dengan membuka lahan baru. Mereka memanfaatkan hutan dan semak dengan cara ditebang dan dibakar kemudian mereka tanami dengan cara sederhana. Tetapi teknik tersebut mempunyai dampak yang cukup besar. Kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan masih dijalankan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada masa ini mulai ada pola-pola perkampungan dan sudah hidup menetap secara berkelompok dengan beberapa keluarga. Populasi manusia meningkat pada masa ini. Mereka mulai mengatur hidup dengan kegiatan-kegiatan dalam kehidupan perkampungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan pembagian hasil secara adil.
4.
Masa
Perundagian
Masa perundagian diperkirakan oleh ahli sejarah adalah
masa akhir dari masa prasejarah atau praaksara. Perundagian berasal dari kata
dasar undagi. Dalam bahasa Bali, kata undagi berarti seseorang atau sekelompok
orang atau golongan masyarakat yang mempunyai keterampilan dan/ atau kepandaian
suatu jenis usaha tertentu dalam membuat gerabah, perhiasan dari
kayu/sampan/batu. Berdasarkan ilmu arkeologi, manusia telah memasuki zaman
logam pada masa perundagian. Manusia pada zaman ini sudah tidak lagi berpindah.
Mereka lebih nyaman untuk menetap secara berkelompok dengan membangun
perkampungan dan desa. Mereka sudah menyebar dengan menetap di desa-desa di
daerah pegunungan, dataran rendah dan pantai. Mereka sudah terbiasa untuk
mengatur kebutuhan sehari-hari (bertani dan berternak) dengan bergotong royong
dan dibagi rata secara adil. Pada zaman ini menunjukan kemajuan yang amat
pesat. Pola ini masih digunakan di sekitar kalian. Sistem pembagian kerja
menjadi lebih ketat dan berkembang kepada kegiatan sehari-hari dalam bermasyarakat.
Aktivitas sehari-hari dibagi berdasarkan kepada keterampilannya. Manusia
menjadi terarah dengan mengetahui pengetahuan dan kemampuan masing-masing.
Perkembangan ini menjadikan manusia terbagi menjadi golongangolongan tertentu
dalam melakukan pekerjaan. Sistem pekerjaan ini juga berkembang dengan sangat
baik. Pekerjaan semakin terspesialisasi kepada sub-sub yang lebih kecil dan
spesiik
Sumber:
M. Nursa'ban, dkk. 2021. Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembukuan




Komentar
Posting Komentar