PENGERTIAN PEMBANGUNAN
Beberapa definisi pembangunan menurut para ahli di atas menggambarkan bahwa (1) pembangunan merupakan suatu proses yang di dalamnya adanpertumbuhan, kemajuan, dan perubahan positif. Pembangunan mensyaratkan pertumbuhan, terutama pertumbuhan ekonomi yang positif dan juga kemajuan di berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, sosial, keagamaan, dan lain-lain. (2) Pembangunan juga menggambarkan perubahan yang lebih menyeluruh. Bukan hanya perubahan fisik, tetapi juga perubahan nonfisik. (3) Pada ujungnya pembangunan bertujuan menyejahterakan kehidupan warga suatu bangsa dalam mencapai cita-cita. pembangunan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan dan kemajuan kehidupan suatu masyarakat. Kesejahteraan dan kemajuan menjadi dua titik penting yang hendak dicapai dalam pembangunan secara simultan. Sejahtera yang maju dan maju yang sejahtera merupakan gambaran di ujung pembangunan.
PARADIGMA PEMBANGUNAN
Paradigma adalah seperangkat kepercayaan dasar yang mengarahkan tindakan dalam ilmu pengetahuan, termasuk dalam pembangunan, sebagai kerangka pikir dan acuan untuk mencapai tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam pembangunan, ada dua paradigma utama yang sering digunakan pemerintah. Pertama, paradigma top-down, yaitu pendekatan dari atas, yang fokus pada pelaksana dan kelompok tertentu tanpa melibatkan masyarakat secara langsung. Pendekatan ini kerap menimbulkan masalah seperti ketidaksesuaian program dengan kebutuhan masyarakat dan kegagalan pelaksanaan.Kedua, paradigma bottom-up, yaitu pendekatan dari bawah, yang berkembang sejak era demokrasi tahun 1990-an. Pendekatan ini melibatkan masyarakat secara aktif bersama pemerintah dalam proses pembangunan. Melalui forum komunikasi pembangunan, paradigma ini memungkinkan masyarakat menjadi subjek, bukan hanya objek, sehingga lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan sosial ekonomi.
PENDEKATAN-PENDEKATAN PEMBANGUNAN
- Pembangunan Berwawasan Kependudukan
Latar Belakang
Permasalahan kependudukan di negara berkembang bersifat kompleks, mencakup pengendalian jumlah, peningkatan kualitas, pembangunan keluarga, persebaran, mobilitas, serta administrasi kependudukan. Hal ini berkaitan erat dengan masalah kemiskinan, pangan, lapangan kerja, kesenjangan sosial, dan lingkungan. Tanpa perencanaan matang, pembangunan berisiko gagal meningkatkan kesejahteraan.
Kemajuan bangsa lebih ditentukan oleh kualitas penduduk dibanding kekayaan alam. Karena itu, program kependudukan perlu terintegrasi dengan seluruh aspek pembangunan. Pembangunan harus berpusat pada penduduk, di mana negara menentukan arah kebijakan dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan (Sintong, 2013).
Tujuan
Pembangunan berwawasan kependudukan bertujuan menyiapkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing, menciptakan penduduk yang maju, mandiri, dan sejahtera, serta hidup seimbang dengan lingkungan. Tujuannya meliputi:
- Meningkatkan produktivitas melalui investasi pada human capital.
- Mewujudkan pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial.
- Menjamin kesinambungan pembangunan untuk kebutuhan saat ini dan masa depan.
- Memberdayakan penduduk agar aktif berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi hidup mereka.
Dampak
Pembangunan berwawasan kependudukan akan berdampak positif pada kualitas hidup dan keberlanjutan pembangunan, tetapi butuh manajemen partisipasi dan koordinasi yang baik agar tidak menimbulkan hambatan
Implementasi
Untuk mewujudkan pembangunan berwawasan kependudukan, masyarakat harus menerapkan perilaku yang mempertimbangkan fertilitas, mortalitas, dan migrasi secara bijak sebagai bagian dari nilai dan karakter individu. Kebijakan yang ditempuh meliputi pengaktifan program Keluarga Berencana (KB) dengan pelayanan berkualitas melalui sosialisasi, pemberdayaan, dan mobilisasi masyarakat. Program prioritas meliputi advokasi, komunikasi informasi edukasi (KIE), kesehatan reproduksi remaja, dan pemberdayaan keluarga.
Pembangunan berwawasan kependudukan mengutamakan pendekatan bottom-up untuk mendistribusikan kesejahteraan secara merata dan mengoptimalkan potensi sumber daya di tiap wilayah sesuai kebutuhan spesifik. Studi di Desa Sumberjaya, Malang, menunjukkan pelaksanaan program KB yang meliputi advokasi, layanan konseling, dan pertemuan kelompok, namun implementasinya belum maksimal karena beberapa kendala.
- Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Latar Belakang
Kemajuan teknologi pada revolusi industri meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi juga menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan, seperti pencemaran air, udara, dan tanah akibat limbah industri serta degradasi lahan pertanian (Rahmat, 2014). Latar belakang munculnya pembangunan berwawasan lingkungan adalah karena kerusakan alam yang semakin parah akibat pertumbuhan penduduk yang cepat dan kemajuan teknologi serta industrialisasi yang tidak terkendali. Pertumbuhan industri memberi manfaat berupa lapangan kerja, penurunan pengangguran, dan peningkatan pendapatan negara. Namun, kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri, pertambangan, transportasi, dan pertanian melahirkan gagasan pembangunan berwawasan lingkungan. Kebijakan ini bertujuan menjaga kelestarian alam sambil memanfaatkan sumber daya secara bijak, dengan menyeimbangkan pemanfaatan dan pelestarian. Pembangunan berwawasan lingkungan diharapkan mewujudkan pembangunan berkelanjutan (Bappeda, 2015).
Tujuan
Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya pembangunan yang menjaga keseimbangan ekosistem dengan dasar pelestarian dan pemanfaatan lingkungan secara serasi agar berkesinambungan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Tujuannya agar pemanfaatan sumber daya alam tidak merusak lingkungan, sehingga kelestariannya tetap terjaga dan dapat memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan (Pratiwi, 2018).
Dampak
Pembangunan berwawasan lingkungan bertujuan meningkatkan mutu hidup manusia tanpa merusak alam. Manfaatnya meliputi pencegahan kerusakan besar dengan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, pemulihan sumber daya alam seperti udara, air, dan tanah, peningkatan kualitas lingkungan untuk kelangsungan hidup, serta penerapan pemanfaatan sumber daya alternatif, seperti penggunaan kendaraan listrik bebas emisi.
Implementasi
Pembangunan berwawasan lingkungan mengutamakan keseimbangan antara lingkungan fisik, ekonomi, dan kehidupan sosial untuk mencapai kemakmuran rakyat dan kelestarian lingkungan. Implementasinya meliputi reboisasi, penanaman pohon, dan gerakan bersih lingkungan. Contohnya, di Summarecon Bekasi, teknologi dipadukan dengan penanaman sekitar 8.885 pohon untuk menjaga kualitas udara dan kenyamanan sekitar 11.000 warga, sehingga meningkatkan kualitas hidup penghuni.
- Pembangunan Berkelanjutan
Latar Belakang
Latar belakang munculnya pembangunan berkelanjutan berawal dari kekhawatiran global terhadap kerusakan lingkungan, ketidakadilan sosial, dan keterbatasan sumber daya alam akibat pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi yang tidak terkendali pada pertengahan abad ke-20.
- 1713 – Hans Carl von Carlowitz: Menulis Sylvicultura Oeconomica, menekankan pengelolaan hutan berkelanjutan (seimbang antara tebang & tumbuh).
- Abad 17–18 (Eropa): Gagasan keberlanjutan muncul akibat eksploitasi hutan berlebihan → kesadaran menjaga SDA.
- 1972 – Konferensi PBB Stockholm: Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan sebagai tujuan sosial global → dipicu kemiskinan, ketidakadilan, dan krisis lingkungan.
- 1980 – Strategi Konservasi Alam Dunia: Istilah “pembangunan berkelanjutan” mulai digunakan sebagai prioritas global.
- 1982 – Piagam Dunia untuk Alam (PBB): Menetapkan 5 prinsip konservasi sebagai pedoman perilaku manusia terhadap alam.
- 1987 – Laporan Brundtland: Definisi pembangunan berkelanjutan yang terkenal: “Memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.”
- 1992 – Konferensi PBB Rio de Janeiro: Melahirkan Piagam Bumi dan Agenda 21, menekankan pembangunan global yang adil, damai, berkelanjutan, serta partisipasi masyarakat.
Konsep pembangunan berkelanjutan berkembang dari pengelolaan hutan → menjadi agenda global untuk ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Tujuan
Sustainable Development Goals (SDGs) lahir dari Konferensi PBB 2012 sebagai kelanjutan dan perluasan dari Millennium Development Goals (MDGs) untuk menghadapi tantangan lingkungan, politik, dan ekonomi global. SDGs berisi tujuan universal yang saling terhubung, seperti mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan gender, meningkatkan kesehatan, dan melestarikan lingkungan, dengan fokus pada pembangunan berkelanjutan untuk generasi mendatang. SDGs juga sejalan dengan kesepakatan internasional seperti Perjanjian Paris 2015 dan Sendai Framework 2015 untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan bencana. Tujuan utamanya adalah memastikan tidak ada yang tertinggal dan membangun dunia yang lebih aman, berkelanjutan, dan sejahtera bagi semua.
Dampak
Pembangunan berkelanjutan bertujuan menjaga keseimbangan planet–manusia–produksi. Jika dijalankan dengan benar, hal ini dapat:
- Menciptakan ketahanan lingkungan.
- Mengurangi pemborosan dan biaya, misalnya melalui pertanian berkelanjutan.
- Meningkatkan kualitas hidup melalui infrastruktur esensial (jalan, jembatan, energi) dan layanan kesehatan.
Selain itu, pembangunan berkelanjutan juga menekankan pentingnya kemajuan ekologi, sosial, dan ekonomi. Namun, masih ada tantangan berupa:
- Ketidaksetaraan dan kemiskinan akibat pembangunan yang tidak merata.
- Pertumbuhan penduduk & urbanisasi yang menekan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan SDA.
- Eksploitasi berlebihan yang memicu kerusakan lingkungan: kekeringan, pencemaran, banjir, longsor, dan bencana lainnya.
Implementasi
Penerapan pembangunan berkelanjutan kini menjadi kebutuhan dengan paradigma baru melalui Agenda 2030. Tiga aspek utamanya—lingkungan, ekonomi, dan sosial—harus berjalan seimbang. Pondasi utamanya adalah budaya (kreativitas, warisan, pengetahuan, keragaman) yang menjadi modal penting dalam embangunan. Budaya mendorong ekonomi inklusif, kelestarian lingkungan, serta perdamaian, karena memiliki nilai, identitas, dan makna yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
- Pembangunan Berpusat pada Manusia
Latar Belakang
Pemahaman tentang pembangunan yang berpusatkan pada manusia muncul karena adanya pemahaman tentang ekologi manusia yang menjadi pusat perhatian pembangunan. Pembangunan berpusat pada manusia menekankan pentingnya peran dan kesejahteraan semua individu dalam ekosistem, termasuk generasi ekarang dan mendatang. Pembangunan harus menguntungkan seluruh masyarakat tanpa mengesampingkan kelompok miskin atau rentan. Fokusnya adalah mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil, serta mempromosikan inklusi sosial dan perlindungan hak asasi manusia, sebagai inti paradigma pembangunan berpusat pada manusia.
Tujuan
Pembangunan berwawasan lingkungan bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian sumber daya alam agar pembangunan berjalan berkelanjutan dengan meningkatkan kesejahteraan manusia. Tujuannya meliputi penggunaan sumber daya yang efisien dan adil, mengoptimalkan partisipasi masyarakat, menjamin konsistensi dalam proses pembangunan, menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan, membentuk sikap peduli lingkungan, melindungi kepentingan generasi kini dan mendatang, mengendalikan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, serta mencegah pencemaran dan dampak negatif lainnya.
Dampak
Model pembangunan berpusat pada manusia menempatkan manusia sebagai fokus utama dan sumber pembangunan di berbagai bidang seperti politik, bahasa, seni, hiburan, dan ekonomi. Model ini dikaitkan dengan revolusi mental, yaitu upaya meningkatkan kualitas hidup melalui perubahan pola pikir dan sikap yang signifikan. Salah satu hasilnya adalah pemberdayaan perempuan melalui motivasi, pelatihan keterampilan, dan dukungan bisnis. Namun, dampaknya masih terbatas, sehingga pemerintah perlu menyediakan program pendukung untuk memaksimalkan hasil pembangunan. Revolusi mental juga identik dengan penguatan karakter dan jiwa kehidupan baru yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan kebangsaan.
Implementasi
Model pembangunan berpusat pada manusia melalui pemberdayaan masyarakat (empowerment) dikembangkan dalam konsep People Centered Development (PCD) dengan salah satu strateginya adalah Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM). WKSBM adalah kerja sama kelompok masyarakat seperti RT, RW, kelompok usaha, dan lain-lain, yang bertujuan mensejahterakan anggotanya dan menyelesaikan masalah sosial secara mandiri. Kegiatan WKSBM meliputi pertemuan rutin, penghimpunan dana sosial, dan dukungan dari pemerintah serta pengurus yang terampil. Contoh implementasi WKSBM ada di Desa Jetis, Gunungkidul, yang mengumpulkan beras untuk lansia setiap bulan.Selain itu, United Nations Development Programme (UNDP) mendukung pembangunan berpusat pada masyarakat dengan memastikan suara kelompok rentan didengar, contohnya melalui pendirian stasiun radio komunitas di Laos yang membantu meningkatkan kesehatan dan pendidikan setempat, dengan rencana memperluas ke wilayah lain. Program ini menunjukkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial secara inklusif.
1. analisis lah tujuan pembangunan wilayah
BalasHapus2. analisis lah dampak positif dari pembangunan wilayah
1. Berikan contoh paradigma top-down dan paradigma bottom-up
BalasHapus2. Berikan contoh kasus tentang menciptakan ketahanan lingkungan
irma wati
BalasHapus1. apa yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan?
2. tujuan utama pembangunan berkelanjutan adalah?
falmita sari
BalasHapus1. jelaskan langkah-langkah kebijakan dan bagaimana rangkaian kebijakan itu dapat menjamin kesejahteraan yang adil dan lingkungan yang lestari!
2. uraikan perbedaan antara paradigma pembangunan top down dan bottom up, serta jelaskan kelebihan dan kelemahan masing-masing pendekatan!
Herdian Febrianti
BalasHapus1. Apa dampak pembangunan wilayah di negara berkembang?
2. Apa tujuan pembangunan wilayah?
Firmansyah
BalasHapus1. Apa perbedaan utama antara paradigma top uown dan bottom up dalam pembangunan?
2. Mengapa pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek fisik tetapi juga pada non fisik?
Nur Wahyuni Nurdin
BalasHapus1. Jelaskan perbedaan paradigma top-down dan paradigma bottom-up
2. Apa tujuan pembangunan berwawasan lingkungan
A. Ammar Mubarak
BalasHapus1. Tuliskan latar belakang pembangunan berwawasan kependudukan
2. Tuliskan tujuan dari pembangunan berwawasan kependudukan